Mendobrak Keterbatasan, serah terima donasi kaki palsu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Penerima Manfaat (PM) baesiswa Aktivis Nusantara Bakti Nusa Dompet Dhuafa. Donasi Kaki Palsu diberikan kepada 8 orang penerima manfaat. Asep Muhaimin seorang pedagang remote TV sehari-hari menjajakan dagangannya dengan mengayuh sepeda walau memiliki kaki yang tidak sempurna. Begitupula dengan bapak Alid seorang PM yang sehari-hari bekerja sebagai petani untuk menopang hidup keluarganya. Selanjutnya, Ke delapan PM tersebut akan mendapatkan program pembinaan kemandirian usai acara serah terima.
Diskusi Mendobrak Keterbatasan, Masalah terbesar hidup manusia adalah terkungkungnya pikiran kita terhadap masalah yang belum pernah terjadi atau hanya ketakutan belaka. Luthi Mu’awan terlahir sebagai penyandang disabilitas sempat membuat Dito (nama panggilan) merasa gagal dan putus asa. “Bully” adalah hal yang biasa dihadapi dito sejak kecil, adapun panggilan Dito karena kecerdasaan dito dibidang akademik. Walau teman-teman masa kecilnya sering mengejek, dan menjauhi dito, namun dito kecil selalu mengerjakan tugas sekolah dengan baik dan DIconTOntek oleh teman-temannya yang akhirnya menjadi nama panggilan untuk seorang Luthfi Mu’awan menjadi Dito.
Selain melalui verbal, dito pernah diperlakukan tidak adil oleh temannya dengan tindakan mengacaukan makanan yang akan dimakan, karena ketiadaan tangan kanan pada tubuh dito. Dikeluarga sendiri, Dito sempat disarankan untuk pindah ke SLB, namun dito tetap yakin pada kemampuannya. Tidak pernah mendapat nilai lebih dari 65 untuk bidang studi Olahraga membuat dito kecewa, namun dia balas kekecewaanya dengan berhasil menjadi delegasi Indonesia ke Korea dan Rusia ketika SMP. Di tengah keterpurukan ekonomi keluarga, pada Tahun 2011 dito berhasil menjadi mahasiswa di ITB dengan baesiswa penuh dari Dikti karena prestasinya. Pada tahun 2014 Dito terpilih menjadi mahasiswa berprestasi Fakultas SITH ITB dan mendapatkan kesempatan untuk exchange ke Jepang selama satu tahun.
Kegagalan kita adalah ketika kita berpikir tentang bagaimana menutupi kekurangan kita, padahal orang-orang besar adalah orang-orang yang dapat mengoptimalkan apa yang ada. Moch. Nur Ramadhani, seorang penyandang disabilitas dengan pretasi dan karya yang cemerlang. Ketika SD dhani kecil sempat belajar di Jerman, disana ia sempat menjadi atlit sepak bole disekolahnya, sekembalinya ke Indonesia saat SMP, dhani di vonis kanker tulang yang menyerang kaki kanan dhani yang membuatnya harus diamputasi.
Meskipun sempat tidak masuk sekolah beberapa bulan, dhani tetap ditawari untuk ikut UN, namun dhani memilih untuk mengulang kelas. Hampir dua tahun lamanya dhani tidak bisa menerima kondisi fisiknya yang baru. Walaupun demikian keluarga mensupport dan mendampingi. Saat di SMA dhani bersama team dibantu dengan ayahnya membuat sebuah karya ilmiah dibidang energi dengan membuat sebuah biogas portable yang dapat dibawa dengan mudah, hasil karya dhani dan team menjadikannya sebagai juara 1 lomba KTI tingkat SMA di Indonesia pada tahun 2011. Saat ini dhani sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Unpad, dan pada tahun 2014 dhani melalui pemilihan raya mahasiswa, terpilih menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FKG Unpad.
Kedua Pembicara dalam Diskusi mendobrak Keterbatasan Luthfi Muawan dan Moch. Nur Ramadhani adalah teladan kita hari ini, bahwasannya setiap yang ada pada kita adalah titipan yang punya nilai manfaat, tugas kita adalah mengoptimalkan potensi dari dititipkan kepada kita. Dua pembicara telah mengisahkan kisah mendobrak keterbatasan mereka. Bagaimana dengan kita?
Semoga tulisan kami dari Gerakan ThisAble Creative dengan program #1000kakipalsu dapat menginspirasi banyak pihak, besar harapan kami, agar semakin banyak pihak-pihak (pemerintah dan industri) yang melakukan pemberdayaan pada penyandang disabilitas, dan mulai berpikir pada orientasi nilai potensi bukan dari kekurangan dalam fisik. Acara ini dapat terselenggara atas kerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung, Hotel Neo by Aston, CO&CO Bandung Spaces dan Dompet Dhuafa Jawa Barat.
Ditulis Oleh : Elvira Juwita Saraswati | Humas ThisAble_Creative