Bambang Widjojanto “Belajarlah dari Kasepuhan Sinar Resmi”

/ kurmamedia

Ketika menginjakkan kaki pertama kali di Kasepuhan Sinar Resmi, Bambang Widjojanto, Aktivis Anti Korupsi merasa takjub. Ya, Desa Adat yang terletak di Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini seolah menghipnotis mantan Wakil Pimpinan KPK  tersebut ketika melihat kearifan lokal yang terjaga, pada kasepuhan yang letaknya juga berdekatan dengan kaki Gunung Halimun.

“Kasepuhan Sinar Resmi begitu dahsyat. Desa adat ini menyimpan banyak pengetahuan yang luar biasa. Ketika Dompet Dhuafa hadir di sini dan membangun kemitraan bersama masyarakat setempat, sesungguhnya Dompet Dhuafa telah menemukan mitra yang hebat. Saya yakin, kerjasama yang telah dirintis oleh dua kekuatan besar (Dompet Dhuafa dan kasepuhan),  ke depan akan membawa manfaat besar bagi masyarakat di desa adat ini,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, kearifan lokal yang terjaga di Kasepuhan Sinar Resmi menyimpan banyak pengetahuan yang mungkin belum tentu terdapat di luar sana. Hal yang dilihat, yakni bagaimana desa adat ini menjaga kesejahteraan masyarakatnya dengan membangun sistem ekonomi dan pertanian, di mana masyarakatnya tidak pernah mengalami musim paceklik dan kelaparan.

Lebih lanjut Bambang mengungkapkan, kesungguhan masyarakat desa adat Kasepuhan Sinar Resmi dalam mempertahankan varietas padi lokal yang menjadi warisan sekaligus aset negeri ini, semangatnya begitu terlihat. Dompet Dhuafa yang hadir menjalin kemitraan dengan menggulirkan program-program pemberdayaan salah satunya Bank Benih yang ditujukan guna melestarikan aset benih padi lokal, dinilai tepat karena upaya tersebut sejalan dengan harapan masyarakat setempat dalam mempertahankan varietas padi lokal yang kini mulai terkikis.

“Ya melihat keragaman dan potensi yang dimiliki desa adat Kasepuhan Sinar Resmi, serta program yang tengah dirintis Dompet Dhuafa baik program Bank Benih dan Agrobudaya di kasepuhan ini, saya sangat yakin desa adat ini mampu menjadi desa adat berdaulat pangan, dan layak untuk dikembangkan menjadi kawasan destinasi wisata budaya pertanian yang excellent,” paparnya.

Berbagai keunggulan yang dimiliki Kasepuhan Sinar Resmi dan program pemberdayaan yang dibangun Dompet Dhuafa di desa adat tersebut menurut Bambang, dirasa mampu menjadi model pembelajaran bagi pemerintah Indonesia dalam berbagai sektor, baik dari sektor ekonomi, pertanian, sosial, dan lain sebagainya, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat seluruh Indonesia.

“Kalo Indonesia ingin belajar, bagaimana mengelola agar anak tidak kelaparan, belajarlah dari Kasepuhan Sinar Resmi. Belajar dari sistem ekonomi yang dibangun dan sistem pertaniannya yang masih alami bertumpu pada alam,” pesannya.

Selanjutnya Bambang juga menyampaikan, persoalan untuk melindungi, meningkatkan dan menyebarluaskan knowledge yang luar biasa yang dimiliki Kasepuhan Sinar Resmi kepada masyarakat luar,  bukan hanya urusan Kasepuhan Sinar Resmi dan Dompet Dhuafa saja.  Pemerintah juga mempunyai kewajiban untuk bertanggungjawab melindungi Kasepuhan Sinar Resmi.

“Seluruh kemampuan yang luar biasa, yang dimiliki kasepuhan ini , ini harusnya tidak hanya menjadiknowledge-nya kasepuhan ini, dia harus disebarluaskan ke seluruh Indonesia bahkan ke seluruh dunia di sini ada suatu tempat yang luar biasa, di mana kita bisa belajar mengenai banyak hal, kasepuhan ini harus di dorong untuk bisa mewujudkan kemampuannya, sehingga ia bisa melindungi kepentingan masyarakat sini, juga meningkatkan daya saing, dan kemampuan adaptasinya dengan dunia luar yang semakin berkembang,” paparnya.  (Dompet Dhuafa/Uyang)