“Meneropong Buruh Migran Indonesia : Tantangan dan Peluang”

/ kurmamedia

Sumedang – Indonesia memiliki 6.5 Juta Buruh Migran yang tersebar di berbagai negara. Dengan persentasi tingkat pendidikan 70% mengenyam pendidikan SD-SMP saja. Dari jumlah tersebut 80% buruh migran Indonesia adalah perempuan, yang menakjubkan buruh migran Indonesia setiap tahunnya menyumbangkan remitasi bagi Indonesia banyak ± $ 10 Miliar, mendekati pendapatan migas Indonesia di angka $ 14.4 Miliar. Bayangkan jika seluruh warga Indonesia kembali pulang, sektor Ekonomi Indonesia akan mudah goyah, ditambah jika lapangan pekerjaan yang jumlahnya tidak seimbang.

Paradoks Pahlawan Devisa Indonesia, sebanyak 80% buruh Indonesia bekerja dibidang domestik, yakni menjadi PRT di luar negri. Di sektor ini, dekat dengan 3D yakni, Dangerous, Difficult dan Dirty. Banyak kisah sedih dibalik perjalanan pahlawan devisa yang hanya timbul lalu tenggelam. Kisah, Justice For Erwiana di Hongkong, Justice For Wilfirda di Malayasia, Save Satinah, dll adalah fenomena gunung es, diluar sana banyak warga negara Indonesia yang mengalami ketidak adilan dan hidup dengan keterbatasan. Sedang kita hari ini, mampu hidup dengan tenang, dan menerima sokongan bantuan ekonomi dari remitasi TKI.

Rendahnya tingkat pendidikan, kualitas hukum yang belum kokoh, serta advokasi yang tebang pilih, membuat citra negatif bagi TKI Indonesia untuk mudah dijatuhi hukuman tanpa hak bela sebelumnya. Selain ketidak adilan di negeri orang, keluarga yang ditinggal pun dekat dengan kehancuran, hilangnya sosok Ibu dirumah akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak dan tingkat perselingkuhan dalam keluarga. (dalam Kompas, 29 Oktober 2013).

Kemudian Pemerintah Jokowi membuat sebuah terobosan baru “ZERO PRT Migran 2017” dalam Kepmenaker 221/ 2015. Akankah berhasil? Akankah Indonesia mampu melepaskan pendapatan ± $10 Miliar nya? Adakah lapangan pekerjaan bagi buruh migran Indonesia? ada banyak keraguan dalam mimpi Zero PRT Migrant. Sebagai Mahasiswa, Human Capital sebuah negara, adalah tugas kita bersama untuk menjadi pejuang perekonomian bangsa. Dengan menghasilkan karya-karya yang dapat memajukan bangsa, menciptakan lapangan pekerjaan dan ikut serta mensejahterakan lingkungan kita. Acara ini menghadirkan Bapak Adi Chandra selaku Executive Director Migrant Institue dan Bapak Panji K perwakilan BP3TKI Jawa-Barat. Dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai Universitas di Jatinangor.

Sayangnya, tidak banyak yang mengetahui dan sadar akan kondisi buruh Migran Indonesia. Migrant Institue bersama Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Beasiswa Aktivis Nusantara wilayah Bandung. menyelenggarakan sebuah seminar dan diskusi Untuk meningkatkan kognitif dan afeksi mahasiswa terhadap kondisi buruh Indonesia.

Kita berharap melalui event ini, dapat menginspirasi berbagai pihak untuk bangkit dalam melindungi segenap kekayaan Indonesia baik SDM maupun SDA. Selain itu, para pembicara, peserta, dan Panitia Seminar ini diajak untuk ikut berperpartisipasi dalam membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana kabut asap. “ Melalui event ini, kami berharap bisa melucuti semangat kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang berada didalam negeri maupun luar negeri ” ungkap Aryo Putra selaku ketua pelaksana Seminar. Lanjutnya, “ sebagai mahasiswa kami juga berharap adanya semangat dalam pergerakan Negeri tercinta ini kearah yang lebih baik . Mari berkarya, bergerak dan bangkit Bersama!“ (DDJabar/ Elv)

editor : Herlinda